‘GUMI SASAK TERANCAM, RINJANI KERING, MASYARAKAT AKAN MATI KEHAUSAN”

GUMI SASAK TERANCAM BENCANA

RINJANI KERING, MASYARAKAT AKAN MATI KEHAUSAN

Oleh

H.Musa Shofiandy

 

            Berita sangat mengejutkan dan menyesakkan dada, kita peroleh melalui hasil penelitian yang dilakukan oleh World Wide Fund (WWF), melalui Pimpinan Proyek (Project Leader) WWF Indonesia wilayah NTB. M. Ridha Hakim, bahwa saat ini (awal tahun 2009) ini Gunung Rinjani telah kehilangan 502 titik mata air yang merupakan sumber kemakmuran masyarakat Gumi Sasak. Menurut Ridha Hakim, sebelum tahun 2005, jumlah sumber mata air di kawasan Gunung Rinjani sebanyak 702 titik, dan sampai dengan saat ini (awal 2009) telah berkurang menjadi 200 titik mata air. Kehilangan sumber mata air ini berakibat pada berkurangnya debit air yang selama ini dihasilkan dari kawasan Gunung Rinjani Gumi Sasak, dan akibat lebih jauh dari keadaan ini, maka masyarakat pulau Lombok terutama sekali Bangse Sasak akan mengalami kehausan setiap hari. Sungguh suatu keadaan yang sangat menyesakkan dada kita semua, kareana sesungguhnya untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat pulau Lombok sehari-hari dibutuhkan air paling tidak 1,3 miliar meter kubik (M3) per tahun, dan inipun masih kurang karena untuk kebutuhan konsumsi saja mencapai 1.250 M3 untuk air minum perkapita per tahun.

Adalah suatu keadaan yang amat mencengangkan kita semua, karena dalam jangka waktu  kurang lebih 4 tahun (dari  tahun 2005 sampai dengan awal 2009, Rinjani telah kehilangan 502 titik mata air. Kalau dipuluk rata berarti tiap tahun kita kehilangan kurang lebih 125 mata air. Nah kalau saja dengan perhitungan ini, maka sisa mata air sebanyak 200 titik mata air akan habis dalam jangka waktu kurang lebih 19 (sembilan belas) bulan atau 1,5 tahun. Ini berarti bahwa pertengahan tahun 2010, rinjani sudah kering. Asumsi ini, jika keadaan ini tidak segera di atasi.

            Pengurangan jumlah mta air di kawasan Rinjani ini diakibatkan karena banyaknya pemukiman atau hak guna lahan yang merambah kawasan pegunungan Rinjani sehingga menutupi titik mata air yang ada. Selain itu pembabatan hutan di kawasan Rinjani juga merupakan penyebab utama berkurangnya mata air ini. Menurut Ridha Hakim, jika keadaan ini tidak cepat cepat ditanggulangi (diperbaiki) akan berdampak pada berkurangny sumber mata air untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari masyarakat pulau Lombok, dan untuk dapat mengembalikan mata air mencapai 702 titik, diperlukan waktu yang sangat panjang dengan anggaran biaya yang cukup besar, tidak kurang dari Rp.1,4 trilyun yang harus dikeluarkan oleh Pemerintah Provinsi NTB. Bila  Dan ini tentunya tidak ansich merupakan tanggung jawab Pemerintah Provinsi, akan tetapi merupakan tanggung jawab bersama antara Pemerintah Provinsi NTB dengan seluruh Pemerintah Kabupaten/Kota yang ada di pulau Lombok, karena sesungguhnya manfaat dari keberadaan mata air yang ada di kawasan Rinjani itu dinikmati oleh semua masyarakat pulau Lombok.

Dengan keadaan ini, maka Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota yang ada di pulau Lombok serta seluruh komponen masyarakat pulau Lombok harus segera bertindak, kalau tidak sesuai perhitungan kita di atas, maka pertengahan tahun 2010 masyarakat yangf mendiami pulau Lombok akan kehausan setiap hari karena ketidak adaan air yang akan dikonsumsi.

            Hasil penelitian yang yang dilakukan oleh WWF Indonesia-NTB ini, setelah dilakukan analisis secara mendalam dengan menggunakan berbagai metode yang dapat diandalkan kebenarannya menemukan jalan keluar untuk mengantisipasi persoalan tersebut, antara lain dengan cara melakukan penanaman kembali 200 (dua ratus) juta pohon di area 50 (lima puluh) ribu hektare di kawasan Gunung Rinjani, namun itupun berlaku atau manfaatnya akan dapat dirasakan dalam jangka panjang, sedangkan untuk jangka pendek menurut WWF, Pemerintah Daerah harus membuat 400 (empat ratus) unit Dam sebagai penampungan air. Dam-dam tersebut dibuat dilokasi titik mata air yang ada di masing-masing areal, karena jika Dam-dam tersebut dibuat di bawah lokasi titik mata air, secara tidak langsung air yang mengalir akan berkurang sedikit demi sedikit di tengah aliran. Pembuatan Dam-dam tersebut harus disertai pula dengan tidak ada lagi pengerusakan hutan kawasan Rinjani, seperti perambahan hutan untuk dijadikan lokasi pemukiman penduduk, pembabatan hutan dan berbagai tindakan pengerusakan hutan lainnya.

            Seperti penulis singgung di atas bahwa sesungguhnya untuk mengatasi masalah tersebut di atas ini, tidak saja ansich merupakan tanggung jawab Pemerintah, tetapi juga adalah merupakan tanggung jawab seluruh komponen masyarakat pulau Lombok, karena bagaimanapun juga akibat dari kejadian ini akan dialami oleh masyarakat pulau Lombok.

Dari Pemerintah Daerah dapat dilakukan dengan membiyai pembuatan Dam-dam sebagaimana di rekomendasikan oleh WWF, dari komponen masyarakat lainnya, seperti Lembaga lembaga Sosial Masyarakat, dapat melakukan upaya Gerakan Penanaman Pohon bekerja sama dengan Pemerintah Daerah dan masyarakat umum (seluruh masyarakat yang bertempat tinggal di pulau Lombok), sebab sesuai rekomendasi WWF, jumlah pohon yang harus ditanam minimal sebanyak 200 juta pohon., kemudian dari komponen tokoh masyarakat dan togoh agama hendaknya melakukan kegiatan sosialisasi pemberian kesadaran kepada masyarakat, agar masyarakat mengetahui dengan jelas akibat yang akan ditimbulkan dengan adanya kegiatan perambahan  dan pembabatan hutan yang ada di kawasan Gunung Rinjani. Kenapa tokoh agama harus dilibatkan ? Dasarnya amat kuat dan significan, karena 99 persen penduduk pulau Lombok beragama Islam, dan di dalam ajaran agama kita (islam) telah jelas-jelas disebutkan adanya larangan dari Allah SWT untuk kita melakukan pengerusakan di muka bumi ini. Salah satu diantaranya disebutkan dalam QS. Al-A’raf (7):55-58 yang artinya :”Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesufah (Allah) memperbaikinya dan bermohonlah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan penuh harapan (untuk dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan dialah byang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan) hingga apabila angin itu telah membawa angin mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, maka dari itu, hendaklah kalian mau mengambil pelajaran. Dan pada tanah yang baik, tanam-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah ; dan pada yanah yang tandus, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang mau bersyukur”. Dalam QS.Al-Baqareah (2): 60 ; juga disebutkan :”Makan dan minumlah rezki (yang diberikan) Allahj, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan”  Juga dalam QS. Al-Qashash (28):77 ; Allah pun berfirman, yang artinya, Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akherat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. Demikian juga dijelaskan di beberapa Surat/ayat Al-Qur’an, lainnya. Ancaman dari tindakan dan perbuatan kita yang medlakukan pengerusakan itu, juga disebutkan dalam Kitab Suci Al-Qur’an, antara lain sebagaimana disebutkan dalam QS.Al-Maidah (5):33 yang artinya :” Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mefreka dengan bertimbal balik, atau dibuang dafri negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di nakherat mereka beroleh siksaan yang besar”

            Berkaitan dengan adanya ketentuan dalam ajaran agama kita (Islam) inilah sebagai dasar dan landasan bagi tokoh-tokoh agama di daerah ini untuk melakukan syiar, menyebarkannya kepada masyarakat banyak, karena para tokoh-tokoh agama inilah yang melebihi kemampuan ilmu dalam bidang agama sehingga akan cepat mendapat respons dari masyarakat. Penyebarluasan ajaran agama ini bisa dilakukan melakukan pengajian-pengajian umum yang dilakukan oleh para tokoh agama, Ulama’, Kiyai, Tuan Guru, Ustadz yang banyak menghuni pulau Lombok ini, juga tidak ada salahnya kalau para Ulama’, Kiyai, Tuan Guru dan Ustadz itu berkeliling ke masyarakat, terutama yang ada disekitar kawasan Gunung Rinjani. Kegiatan ini sekaligus untuk mempertahankan predikat pulau Lombok sebagai “Pulau Seribu Masjid”

            Pelestarian, konservasi dan perlindungan terhadap lingkungan hidup, ekosistem hutan, tanah dan air beserta seluruh satwa, sumber daya alam seperti air, tanah dan lainnya serta makhluyk hisup yang ada di dalamnya adalah merupakan bagian dari kewajiban manusia dan merupakan ketentuan syariat agama yang telah diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana disebutkan di atas. Karena itu tidak akan ada artinya keberadaan semua itu, kalau saja manusia sebagai penghuni bumi ciptaan Allah ini akan melestarikannya, tidak menjaga dan memeliharanya.

            Sesungguhnya, makmurnya suatu bangsa, bukan secara otomatis karena keadaan hutan, tanah dan airnya yang begitu kaya, tetrapi bagaimana upaya dan komitmen manusia yang ada di dalamnya dalam memanfaatkannya secara baik dan terukur sesuai dengan ketentuan dan petunjuk yang diberikan oleh Allah Azza  Wajalla. Jika kita mampu mengelola, mempertahankan dan mampu memelihara kelestarian lingkungan hidupnya disamping memanfaatkannya secara seimbang, maka kemakmuran masyarakat, daerah, bangsa dan negara akan dapat  terwujud. Dan sebaliknya, jika penggunaannya, eksploitasi dan eksplorasinya dilakukan secara semena-mena, tamak, egois, ingin cepat kaya dan tidak memperhatikan dampak lingkungan jangka panjangnya, para penguasa daerah dan negara ikut serta menjadi calo pengerusakan hutan melalui penebangan kayu-kayu hutan, para penjajah dari negara-negara rentenir pun diberi kebebasan untuk ikut menjarah dan mengeruk segala kekayaan hutan, bahan tambang yang ada didalam tanah dan segala sumber kekayaan yang ada di perairan kita dengan alasan investasi dan untuk mendatangkan devisa negara dan berbagai alasan pembenar lainnya, maka yang akan terjadi adalah kerusakan-kerusakan yang membahayakan manusia penghuninya, turunnya musibah yang bertubi-tubi dan ditimpakannya pakaian kelaparan serta kemiskinan yang terus menerus oleh Allah Sang Pencipta.

            Ancaman balasan yang akan ditimpakan Allah kepada makhluk-Nya yang melakukan pengerusakan, telah dibuktikan, sesuai dengan firman-Nya dalam QS. An-Nahl (16):112-113 yang artinya : “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah ; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakian (maksudnya; kelaparan dan ketakutan itu meliputi mereka seperti halnya pakaian yang selalu meliputi tubuh mereka) kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka mendustakannya ; karena itu mereka dimusnahkan azab dan merteka adalah orangt-orang yang zalim”.

 

 

 

            Atas dasar uraian yang penulis kemukakan di atas sekaligus untuk menghindari terjadinya bencana bagi manusia penghuni bumi, khususnya masyarakat penduduk pulau Lombok dimana Gunung Rinjani berada, maka ,melalui kesempatan ini penulis mengajak kita semua untuk berbuat dan bertindak sesuai dengan peran dan kemampuan kita masing-masing, agar kita dan masyarakat pulau Seribu Masjid ini dapat menikmati hidup dunia yang lebih lama seizin Allah Subhanahu Wa Ta’ala serta mendapatkan Ridho untuk menikmati hidup bahagia di akherat kelak. Bila tidak, mulai sekarang kita harus mempersiapkan diri untuk menerima azab dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala………………………………..

            Wallu a’lam Bissawab.

 

                                                                                Gumi Sasak, 12  Maret  2009.

                          

                                                                                               Penulis adalah

                                                                          Pemerhati masalah Sosial Kemasyarakatan

                                                                                          Nusa Tenggara Barat.

Iklan

2 Tanggapan

  1. sebenarnya bahaya kekurangan air dapat diatasi saat musim hujan ini, masyarakat harus diajar menyimpan aiar hujan sebanyak mungkin dengan membuat embung disekitar dasan atau tampungan air di pelimbahan sekeliling rumah. air dalam bak harus disaring dan dapat diminum. saya mebuat bak di tengah kebun hanya selebar 1 m dengan panjang 4 m selama setahun airnya tidak kering karena memang tidak saya pakai dan ikan lele bisa tumbuh besar. nah bak bak air bisa dibuat seperti sumur dan dapat dimanfaatkan selama musim kemarau dan bahkan setahun. di pulau pulau kecil di kep. Riau setiap rumah mempunyai sumur penampungan dan mereka minum air itu.

  2. kk blog na keren bgt

    jgn lupa silaturahmi ke blog saya yaa

    http://jamelblog.wordpress.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: