MENCARI JEJAK SOSOK “TUAN GURU” DI GUMI SELAPARANG

MENCARI JEJAK SOSOK “TUAN GURU”
DI GUMI SELAPARANG

Oleh
H.Musa Shofiandy

Sudah tiga puluh tahun lebih berlalu, namun masih terngiang dalam ingatan penulis kenangan masa-masa lalu, ketika penulis menimmati hidup masa kecil di kampung halaman di era tahun tujuh puluhan. Kalau semeton kita MRB melalui media KS ini telah mengulas tuntas nuansa Pilar-Pilar Masjid yang telah mulai rapuh, terinspirasi pula penulis untuk mencurahkan tuangan tulisan bertajuk “Mencari Jejak Sosok Tuan Guru di Gumi Sasak Selaparang”. Tidak jauh beda dengan cerita semeton kita MRB, ketika masa kecil sampai menjelang dewasa, nuansa religius keagamaan di Gumi Sasak Selaparang sangat terasa terutama di kampung-kampung kita, walapun pada masa itu amat sedikit “Tuan Guru” serta tokoh agama, serta para alim ulama’ ahli agma (Islam).
Seingat penulis, sosok Tuan Guru ketika itu hanya segelintir saja, seingat penulis tidak lebih dari hitunga jari tangan. Untuk daerah penulis di Lombok Timur, seingat dan sepengetahuan penulis hanya hanya ada dua sosok Tuan Guru yang dikenal luas masyarakat ketika itu yakni Alm. TGKH.Moh.Zainuddin Abdul Majid (Pancor) dan TGKH.Moh.Mutawalli Yahya Al Kalimi (Jerowaru). Sedngkan di Lombok Tengah ketika itu penulis hanya mengenal TGKH. Fadil Thahir (Bodak) selebihnya penulis sendiri tidak banyak kenal. Namun dalam tulisan ini penulis hanya terbatas bicara mengenai dua sososk Tuan Guru yang ada di Lombok Timur karena beliau berdua inilah yang banyak penulis tau dan kenal sosok pribadinya, tentunya tanpa mengabaikan Tuan Guru lainnya yang ada di Lombok Tengah maupun di Lombok Barat. Kedua beliau (Alm) inilah yang penulis kenal keluar masuk desa dan kampung untuk memberikan tausyiah/Pengajian kepada masyarakat Umum, tidak mengenal tempat dan waktu, tidak pernah mengharapkan sesuatu selain mengharap Ridho dan Berkah dari Allah Subhanahu Wata’ala, tidak pula mengharap bantuan dari Pemerintah, tidak ada pasilitas transportasi yang memadai, hatta jalan kaki pun beliau berdua lalui dan jalani untuk memberikan pencerahan iman dan taqwa masyarakat, tidak pernah ada proposal yang diajukan kepada Pemerintah dan atau lembaga-lembaga lainnya bila akan membangun pasilitas keagamaan dan atau pasilitas lain yang dibutuhkan masyarakat, tidak pernah ada dan kita lihat masyarakat yang mencari dan mengumpulkan dana di jalan raya dengan membuat posko penggalangan dana untuk membangun Masjid, Musholla dan lainnya, dengan menyetop setiap kendaraan yang lewat di jalan raya, dimana hal ini sangat mengganggu arus lalu lintas jalan raya. Beliau berdua cukup hanya dengan membuka pengajian umum ditempat-tempat dimana masyarakat akan membangun tempat ibadah dan atau pasilitas lainnya, dan di saat itulah masyarakat (jamaah) yang menghadiri pengajian dihimbau untul beramalh sadaqah seikhlas dan semampunya baik berupa uang dan atau barang material seperti batu, bata dan yang lainnya. Mayarakat pun sangat antusias dan berbondong-bondong datang ke tempat pengajian, walaupun harus jalan kaki sepanjang 4 sampai 5 km, ditengah teriknya matahari, dengan membawa amal berupa batu, bata dan lainnya mereka tidak akan mempermasalahkan, semua itu dilakukan dengan penuh kesadaran dan ikhlas tanpa ada rasa tekanan dan paksaan dari pihak manapun, tapi hanya karena Allah semata dengan melalui perantara tausyah dan atau pengajian yang diberikan oleh kedua Ulama yang penuh kharisma itu.
Kegiatan beliau berdua seperti ini terus dilakukan sampai menjelang akhir hayat beliau, bahkan Alm.TGKH.Moh.Zainuddin Abdul Majid, sampai belia sudah tidak mampu lagi berjalan kaki, beliau tetap melakukan kegiatan memberikan pengajian di berbagai pelosok Gumi Sasak, walau dengan cara di papah. Dengan kegiatan beliau yang tulus dan ikhlas semata karena Allah SWT. ini, Allah pun memberikan kelebihan rahmat kepada beliau berdua. Beliau amat dikagumi dan disayang oleh semua lapisan masyarakat. Setiap kata dan ucapan yang keluar dari mulut beliau akan selalu diikuti, dipatuhi dan ditindak lanjuti masyarakat, apakah itu berupa petuah ingatan dan atau larangan., karena apa yang diucapkan dan disampaikan oleh beliau selalu selaras dengan tingkah laku dan perbuatan beliau, tidak terpengaruh oleh apapun jua., tidak ada yang kabur dan atau pengkaburan makna, kalau tidak boleh tetap tidak boleh, yang halal tetap halal dan yang haram tetap haram, tidak ada intimidasi atau pesan sponsor. Tidak pernah kita lihat dan temukan photo kedua tokoh ulama kharismatik itu terpampang mendampingi para politikus pencari massa (suara) dalam permainan politik seperti sekarang ini, tidak pernah mengeluarkan himbauan kepada masyarakat untuk memilih seseorang menjadi pejkabat atau calon legislatif dan berbagai permainan politik lainnya. Itulah “Sosok Tuan Guru” kita dimasa lalu. Yang jadi pertanyaan kita saat ini adalah “ Adakah Sosok Tuan Guru sekarang ini yang memiliki karakter seperti kedua beliau ini ? Penulis sendiri sulit menjawabnya, mungkin karena sudah saking banyaknya Tuan Guru kita di Gumi Sasak ini,yang mencapai ratusan orang bahkan ribuan orang Tuan Guru sehingga kita tidak bisa membedakannya satu persatu. Kesulitan penulis juga untuk dapat menemukan sosok Tuan Guru yang sama atau mungkin hampir sama dengan kedua sosok Tuan Guru kita itu adalah karena saat ini banyak di antara person yang disebut sebagai Tuan Guru itu sudah memasuki ranah dunia politik yang tidak menentu. Terkadang penulis juga heran, saat ini begitu mudahnya menjadi Tuan Guru, punya beberapa orang murid pengajian, punya pondok pesantren kecil-kecilan sudah disebut Tuan Guru tanpa melihat dan memperhatikan jati diri, watak, karakter, tindakan serta perbuatan dari yang bersangkutan. Banyak Tuan Guru masuk dan menikmati dunia politik, menjadi wakil masyarakat (katanya) sebagai anggota Legislatif (DPR dan DPRD). Sepengetahuan dan pengalaman penulis selama ini, kalau seorang Tuan Guru sudah masuk dunia politik seperti menjadi anggota DPR dan atau DPRD, dan atau jabatan politis lainnya, sulit dan sangat sulit untuk kita bisa menyebutnya sebgai Tuan Guru, karena dunia politik yang serba tidak menentu, teman bisa jadi lawan, lawan bisa jadi teman akrab, sekarang bilang utara, nanti sore bisa berbalik arah 180 derajat ke selatan, dalam membahas Perda (Peraturan Daerah), membahas APBD, membahas pertanggung jawaban Kepala Daerah, selalu disertai dengan permainan, omongan yang dikeluarkan acapkali tidak sama dengan yang seharus dan sebenarnya, mempermainkan keuangan daerah melalui Proposal dan melalui proyek-proyek dan berbagai kegiatan lain yang seharusnya tidak boleh dilakukan, apalagi dilakukan oleh person yang sudah menyandang predikat “Tuan Guru” sebab bagi penulis sendiri, nama Tuan Guru itu kalau boleh penulis katakan sangat sakral, tidak sembarangan orang mendapat sebutan Tuan Guru, kalau belum menyamai atau hampir menyamai sosok pribadi kedua tokoh Tuan Guru yang amat penulis banggakan di atas ( TGKH. Moh. Zainuddin Abdul Majid dan TGKH.Moh.Mutawalli Yahya Al Kalimi), belum dapat penulis kategorikan sebagai Tuan Guru. (Ampure, moho maaf kalau penilaian penulis ini, beda dengan anggapan semeton-semeton yang lain). Saat ini, jarang kita lihat seorang Tuan Guru, keluar masuk Desa/kampung untuk memberikan tausyiah/pengajian kepada masyarfakat seperti dulu, paling-paling Tuan Guru itu mendatangi masyarakat kalau diundang untuk menghadiri peringatan hari-hari besar keagamaan seperti acara Maulidan, Isra’ Mi’raj dan peringatan hari besar keagamaan lainnya, itupun terkadang masyarakat harus menyediakan transportasi, jemputan dan berbagai pasilitas lainnhya untuk Sang uan Guru. Seandainya saja, sekian ratus bahkan hampir ribuan orang Tuan Guru yang ada saat ini, memiliki keperibadian kharismatik seperti kedua tokoh Tuan Guru kita di atas, maka Insya Allah Gumi Sasak akan menjadi masyarakat yang religius mengikuti jejak sebutan Pulau Seribu Masjid.
Dibalik keraguan kitaq itu, Alhamdulillah kedua Sosok Tuan Guru kita di atas, sudah mulai nampak “pewaris”nya, Dari Alm. TGKH.Moh.Zainuddin Abdul Majid, ada cucu beliau yakni TGKH.Moh,Zainul Majdi,MA (saat ini Gubernur NTB) dan karena keberadaan beliau saat ini berada dalam kancah dunia politik, kita hawatir beliau akan terbawa arus permainan pilitik yang tidak menentu, tapi mari kita semua berupaya sambil berdo’a mudah-mudahan kehawatiran itu tidak terjadi, walaupun issue santer terdengar bahwa beliau sepertinya dikendalikan oleh Wagub, semoga kebenaran issue itu tidak berlanjut. Selain itu ada juga cucu beliau dari Umi Siti Raehanun di Anjani yakni TGKH.Moh.Zainuddin Atsani, mudah-mudahan beliau ini tetap pada pendiriannya saat ini untuk tidak masuk ke ranah dunia pilitik. Sedangkan dari Alm. TGKH.Moh.Mutawalli Yahya Al Kalimi, ada anak almarhum yakni TGKH.Moh.Sibawaihi Mutawalli yang ,menurut kata dan panilaian sebagian masyarakat, beliau ini sama seperti almarhum ayahandanya TGKH.Moh.Mutawalli Yahya Asl Kalimi.
Dibalik keraguan dan kebingungan penulis ini, melalui forum KS ini penulis ingin mendapatkan bantuan dari seluruh komponen KS dan Masyarakat Sasak Lombok, Siapa saja dari ratusan dan hampir ribuan Tuan Guru kita di Gumi sasak ini, yang patut dan pantas kita sebut sebagai Tuan Guru ? atau mungkin semuanya dapat kita pandang sebagai Sosok Tuan Guru, sebagaimana pandangan kita terhadap Sosok Tuan Gurju kita di masa lalu ?

Matur Tampiasih, dan ampure, mohon maaf kalau tulisan ini kurang berkenan di hati pembaca. Tidak ada niatan penulis untuk menyepelekan, meremehkan keberadaan Tuan Guru di Gumi sasak ini, penulis cuman berharap dan menginginkan agar Sosok Tuan Guru sekarang ini, memiliki karakter watak pribadi dan kharisma yang melekat erat dalam diri seorang Tuan Guru yang nota bene adalah seorang Tokoh dan Ahli Agama yang mumpuni, bisa dijadikan panutan masyafrakat luas, sebagaimana halnya sosok kharismatik kedua Tuan Guru yang penulis sebutkan di atas.

Gumi Sasak, 02 April 2009.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: