“KOMUNITAS SASAK KEPADAMU KAMI BERHARAP”

KOMUNITAS SASAK, KEPADAMU KAMI BERHARAP

Ketika awal Pertama  saya mengenal dan menemukan Komunitas Sasak (KS) ini lewat dunia maya yang penuh makna ini, seketika itu pula setetes harap mengalir dalam  benak hati ini bahwa inilah wadah yang akan dapat memberikan perubahan warna dan makna bagi Bangse Sasak yang selama ini  hidup dalam ketidak menentuan dan hanya dijadikan alat  permainan person-person yang haus kebahagiaan duniawi, baik person Bangse Sasak sendiri maupun Bangse lain yang hidup sebagai benalu di Gumi Sasak ini.

Keyakinan hati ini tambah terpatri erat ketika sekian lama saya mengikuti dan menikmati buah pikiran semeton-semeton kita yang tergabung dalam KS ini melalui tulisan-tulisan ke-SASAK-an yang penuh makna dalam upaya mengarahkan dan meraih kemaslahatan Bangse Sasak di masa mendatang, seperti  Moh.Roil Bilad (MRB) yang sedang berada di Belgia, L.Moh.Jaelani (LMJ) di Taiwan, Mbak Nurul yang lagi berada di Australia, ketiga pepadu itu adalah merupakan sebagian kecil dari pepadu-pepadu Bangse Sasak yang sedang bergelut menambah dana memperdlam ilmu di negeri orang sebagaj bekal untuk pengabdiannya kepada Bangse Sasak nantinya, ditengah kesibukannya menghadapi berbagai tantangan perkuliahan, pepadu-pepadu itui masih sempat luangkan banyak waktu memberikan kmontribusi pemikiran untuk Bangse Sasak lewat KS, demikian pula halnya dengan pepadu-pepadu Bangse Sasak lainnya seperi, Hazairin R,Junep (HRJ) di Yogyakarta, sesepuh KS yang selalu menulis dan menyampaikan isi hati dan pemikirannya yang sungguh sangat diharapkan oleh Bangse Sasak yang masih punya jati diri, Le Wharid R (LWR) , dan semeton-semeton lainnya, baik yg ada di wilayah Nusantara Indonesia maupun yang sedang merenda hidup di dunia orang lain (luar negeri). Rasa bangga dan bahagia tak dapat saya ungkapkan dengan kata dan kalimat, karena ternyata masih ada dan banyak pepadu-pepadu Sasak yang punya hati nurani jernih dalam berfikir dan Insya Allah juga dalam bertindak untuk membangun  Bangse Sasak yang telah lama hidup bagai anak tiri ini. Kenapa terungkap sebagai “anak tiri”? karena sudah dua pemimpin kita (Gubernur) dan rata-rata semua Kabupaten/Kota di Gumi Sasak ini dipimpin oleh Bangse Sasak sendiri, tapi perlakuan beliau-beliau  belum menganggap semua komponen Bangse Sasak ini adalah anak kandungnya yang harus diperlakukan sama, akan tetapi masih ada tebang pilih dan diskriminasi, lebih banyak mengutamakan keluarga, kerabat dan konco-konconya yang pintar carmuk, pintar menyanjung karena berbagai kepentingan duniawi, hingga sering saya berfkir dan bergerutu dalam hati, para pemimpin itu tidak ingat mati…… Ketika lagi ada kepentingan dia mengatakan bahwa semua kita bersaudara (dan itu amat betul) yang harus saling bantu dan saling angkat (lebur anyong saling sedok), tapi ketika keinginan dan kemauannya telah terpenuhi, ia lupa semua itu (lebur anyong saling sedok berubah menjadi lebur anyong doak-doak e/n pade), ia lupa bahwa tahta kedudukan dan jabatan duniawi itu hanya sesaat, ia lupa bahwa ketika ia turun dan tidak lagi memegang jabatan dan kekuasaan itu, ia akan kembali menjadi rakyat biasa yang amat memerlukan bantuan dan pertolongan orang lain. Segala aturan dan hukum agama / pemerintah diputar balik sesuai kepentingan pribadi dan golongannya, yang menyimpang/salah dibenarkan dan yang salah dibenarkan dengan penuh kelicikan dan kebohongan, Ia menjadi manusia yang tidak punya keperibadian dan jati diri,  tidak punya prinsip dasar hakiki yang dijadikan batu pijakan berlandaskan hukum dan aturan agama/pemerintah. Mereka menjadi manusia yang tidak tau malu, lupa bahwa ia telah berbuat salah (disengaja atau tidak) pada  semeton-semeton dan masyarakatnya ketika ia sedang menikmati kebahagiaan dunia, yang justru diperolehnya dari semeton-semeton dan masyarakatnya.

Itulah sedikit gambaran untuk kita sama-sama cermati dan renungkan, Sampai kapankah Bangse Sasak ini akan seperti itu ? Apakah kita akan membiarkan terus seperti ini, apakah akan kita biarkan para pemimpin kita Bangse Sasak ini akan mewariskan tipu daya kepemimpinan seperti itu kepada para generasi kita, pada generasi dibawah kita dan generasi-generasi berikutnya ? Sampai kapan ?.. Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa pepadu-pepadu sasak yang ada dan tergabung di Komunitas Sasak ini, tidak rela dan tidak ikhlas dan sangat tidak ikhlas untuk membiarkan Bangse sasak ini akan terus menjadi kubangan kerbau dimusim kemarau. Lalu apa yang harus kita (KS) perbuat ? apakah akan terus membiarkan keadaan seperti itu, apakah cukup hanya dengan kita memberikan solusi, memberi ingatan hanya lewat pencetusan ide dan buah pikiran secara lisan dan atau tertulis (tidak ada aksi riel yang positif), atau hanya kita akan mencaci maki, “sumpak senak” mereka lewat jarak jauh, lewat dunia maya ?

Saya selalu berhayal bahkan terbawa dalam mimpi, seandainya saja kita bersama semeteton-semeton kita yang di KS ini, berada di Gumi Sasak dalam waktu yang bersamaan, alangkah bahagianya kita, karena dengan ngumpul bareng bersamaan, kita akan dapat berbuat riel lebih  banyak untuk kemajuan Bangse Sasak ini. Kita akui, bahwa di Gumi kita (Sasak) ini memang banyak pepadu-pepadu kita yang punya intelektual yang dapat dibanggakan, banyak pula lembaga-lembaga (LSM) ke-Sasak-an, baik yang formil maupun Non Formil, tapi sampai saat ini saya pribadi belum menemukan sosok seperti semeton-semeton yang ada di KS. walau telah berbagai cara dan upaya telah saya coba lakukan untuk membangun “Sasak Bersatu”, tapi angan-angan itu belum juga terwujud. Kebanyakan semeton-semeton kita itu hanya berfikir untuk diri pribadi dan golongannya saja, bahkan  kita tidak dapat sembunyikan, bahwa terdapat lembaga ke-Sasak-an yang keberadaannya hanya untuk mencari dan menguntungkan pribadi-pribadi dan golongan tertentu saja, mereka acapkali menjual rakyat “Sasak” untuk meraih dan mendapatkan pemenuhan tuntutan kepentingan mereka. Masya.. Allah…..

Ampure… semeton-semeton tiang yang sehati di KS. Secara kasat mata dan terinci,  saya memang belum melihat dan membaca  Visi, Misi KS dalam AD/ART nya, walau saya yakin “Inti dari Visi dan Misi KS adalah untuk Membangun Bangse Sasak secara keseluruhan, tidak membedakan ia berasal dari mana, anak siapa, keturunan apa dan siapa, apa kedudukannya dan berbagai predikat individual/kelompok yang melekat pada diri masing-masing, dan sayapun yakin bahwa salah satu penjabaran dari Visi dan Misi dari KS. untuk mewujudkan harapan mulia itu adalah dengan melakukan berbagai cara dan upaya yang baik dan halal menurut ajaran agama kita (Islam).

Atas dasar pemikiran dan analisis tersebut di atas, terbesit sebuah pemikiran dalam diri hati ini, untuk ingin melihat agar KS lebih eksis  lebih menampakkan jati dirinya sebagai satu komunitas yang harus diperhitungkan oleh pihak-pihak tertentu, baik internal Bangse Sasak ansich maupun oleh pihak lain diluar Bangse Sasak. Atas dasar pemikiran saya ini, maka ketika pada bulan Maret 2009 lalu saya menulis sebuah artikel di KS ini, dengan judul GUMI SASAK TERANCAM BENCANA RINJANI KERING, MASYARAKAT AKAN MATI KEHAUSAN, menanggapi berbagai komentar dari semeton-semeton kita, saya sempat ajukan salah satu solusi yakni mengharap agar KS yang ada di Gumi Sasak melakukan aktivitas riel dengan mendatangi “pembelek-pembelek” kita yang ada di Gumi Sasak (Gubernur, Bupati/Walikota) guna memberikan masukan untuk kita satukan hati, satukan langkah dan tindakan riel agar bencana tersebut tidak terjadi, namun beberapa semeton kita yang di KS kurang setuju dengan saran dan masukan saya itu. Namun walau demikian, sama sekali saya tidak pernah dan tidak akan pernah kecewa dengan hal itu, dan tidak akan pernah berputus asa untuk berbuat yang berakibat kebaikan dan kebajikan, sampai kapanpun.

Atas dasar pemikiran dan prinsip ini dan terkait dengan judul tulisan ini, (Komunitas Sasak, Padamu Kami Berharap), sebelum lebih jauh saya kemukakan berbagai aktivitas riel yang bisa dilakukan KS, khususnya bagi semeton-semeton KS yang berada ditanah kelahirannya (Gumi Sasak Lombok), dengan tulus dan ikhlas hati, saya berharap kepada semeton-semeton yang ada di KS.  untuk dapat memberkan saran, masukan dan tanggapan atas keinginan saya pribadi ini. Saya (pribadi) yakin, bahwa kalau saja KS dapat melakukan kegiatan-kegiatan secara menyeluruh untuk kemajuan Bangse Sasak, maka dengan sendirinya “Keberadaan KS di Gumi Sasak Akan Diperhitungkan Orang”

Salah satu contoh riel.  KS mengadakan survey (poling) lewat Blog Sasak.Org. tentang Calon Bupati Loteng 2010. Hasil sementara poling tersebut menunjukkan bahwa semeton kita LWR mengungguli Bacabup lainnya termasuk dapat mengalahkan Mamiq Ngoh. (Buypati Loteng sekarang) dan Gde Derip  (Wabup Loteng sekarang). Nah.. dengan hasil tersebut, apakah kita lalu akan berdiam diri kalau kita betul-betul ingin melihat LWR menjadi Bupati Loteng 2010-2015? Puas dan yakin dengan hasil poling itu? Apakah dengan keadaan hasil poling itu, semeton kita LWR akan mulus melenggang ke kursi Bupati Loteng 2010-2015? Apa warga KS, terutama yang ada di Indonesia, khususnya yang ada di Gumi Sasak tidak perlu turun gunung, melakukan berbagai upaya dan kegiatan riel untuk dapat  meraih kemenangan itu ?

Satu lagi aktivitas yang dapat dilakukan untuk lebih menampakkan jati diri keberadaan KS, yakni ketika awal tahun ajaran tiba, banyak diantara adik-adik kita yang ingin melanjutkan kuliah (study)nya keluar daerah, seperti  Yogyakarta, Malang, Surabaya, Bandung, Makasar dan berbagai daerah lainnya. Nah, tentunya adik-adik kita itu akan mengalami kesulitan karena mungkin saja mereka belum tahu persis sikond di daerah yang mereka kunjungi (tuju). Alangkah baik dan bijaknya kita kalau KS bisa berperan aktif memberikan bantuan dalam hal mengurus keperluan kelanjutan kuliah mereka, sehingga mereka tidak mengalami kesulitan, dan masih banyak lagi perbuatan dan tindakan baik lainnya yang bisa dilakukan oleh semeton-semeton kita yang ada di KS.

Jelasnya, saya pribadi dan saya yakin bahwa semeton-semeton kita yang ada di KS memiliki pemikiran yang sama untuk bagaimana agar Bangse Sasak ini Bersatu dalam kemajuan, sehingga tidak diremehkan pihak lain.

Ampure , semeton-semeton tiang, khususnya warga KS dan pembaca tulisan ini, saya pribadi mohon maaf bila dalam tulisan ini terdapat hal-hal yang kurang berkenan di hati semeton-semeton, dan kitapun tidak akan dapat hindari adanya titik-titik perbedaan pemikiran dan pandangan diantara kita, dan mari kita jadikan perbedaan itu sebagai senjata  kita untuk merajut tali asih dan kasih persaudaraan kita dunia wal akherat serta untuk meraup Bangse Sasak Bersatu.  Amin….. Semoga Allah meridhoi…………………

Gumi Sasak, 01  Juli  2009

Penulis,

H. MUSA SHOFIANDY.

Pemerhati Masalah Sosial Kemasyarakatan

“SEANDAINYA TUAN GURU BERSATU”

Seandainya TUAN GURU Bersatu

Oleh

H.MUSA SHOFIANDY.

Saya baru tau bahwa di Gumi Sasak Selaparang Lombok Timur terdapat sebanyak 500 (lima ratus) orang Tuan Guru. Jumlah ini merupakan hasil pendataan yang dilakukan oleh Majelis Ulama Indonesia Lombok Timur, guna mendapatkan pengobatan Gratis dari Pemerintah Kabupaten Lombok Timur. Namun dari 500 orang Tuan Guru itu yang  memenuhi kriteria untuk mendapatkan Pengobatan Gratis itu HANYA 120 orang. Saya tidak tahu persis apa kriteria yang disyaratkan oleh Pemerintahan H.Sukiman Azmy untuk bisa mendapatkan pengobatan gratis itu.

Yang terbayang dalam benak hati saya ketika mengetahui bahwa jumlah Tuan Guru di Lombok Timur yang merupakan daerah kelahiran, bukan masalah ada apa dibalik pengobatan Gratis bagi Tuan Guru itu, tapi yang terbayang adalah, bahwa  seandainya saja ke 500 orang Tuan Guru di Lombok Timur itu bersatu, tidak dapat kita bayangkan, betapa aman, nyaman dan damainya masyarakat Gumi Selaparang Lombok Timur.

Mari kita berhitung secara matematis dan jamak-jamak saja. Di Kabupaten Lombok Timur terdapat 20 Kecamatan  yang terdiri dari 119 Desa/Kelurahan, dengan jumlah penduduk sampai dengan akhir  tahun 2008 lebih kurang sebanyak 1.056.312 jiwa. Kalau saja  500 orang Tuan Guru itu dibagi per Desa/Kecamatan, berarti pada masing-masing Desa/Kelurahan terdapat sekitar 4 sampai 5 orang, dan kalau dibagi menurut jumlah penduduk, maka pada setiap kurang lebih 200 orang penduduk,terdapat  1 (satu) Tuan Guru. Nah dengan perhitungan ini, seandainya ke 500 orang Tuan Guru itu bersatu membina Ummat, bersatu memberikan pencerahan Iman dan Taqwa sesuai ajaran Al Qur’an dan Sunnah Rasul, bersatu memberikan contoh tauladan sesuai ajaran Agama kita (Islam), bersatu membasmi segala macam bentuk kemunafikan dan kemusyrikan, bersatu dalam memberikan saran dan masukan kepada Bupati/Wakil Bupati serta semua Pemimpin Pemerintahan yang ada di Lombok Timur agar menjalankan Kepemimpinannya dengan baik dan benar, bersatu memberikan sanksi hukum bagi pelanggar hukum,  serta bersatu dalam segala hal yang dihajatkan untuk kemaslahatan seluruh lapisan masyarakat Lombok Timur, maka tidak akan ada keraguan kita untuk mengatakan bahwa Gumi Sasak Selaparang Lombok Timur adalah masyarakat Agamais yang selalu bertbuat dan bertindak sesuai dengan koridor hukum yang berlaku, terutama “hukum Islam”

Yang menjadi pertanyaan kita sekarang adalah, kamana saja dan apa saja yang dilakukan oleh para Almukarram Tuan Guru kita itu, hingga masyarakat di Kabupaten Lombok Timur masih banyak yang belum Insaf?, masih banyak terjadi kejahatan?, masih banyak yang melakukan pelanggaran, masih banyak maling, masih banyak Pemimpin yang tidak Amanah?, memperaktrekkan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, masih banyak yang hanya mengejar kebahagiaan dunia semata dengan cara apapun, masih banyak yang tidak sesuai antara kata dan perbuatannya, dan berbagai bentuk kejahatan dan atau pelanggaran lainnya. Apakah para Almukarram Tuan Guru kita itu, belum sepenuhnya berperilaku layaknya sebagai seorang Tuan Guru, yang sedikit ingat dunia dan lebih banyak mengingat Allah dan hari kemudian sehingga perilaku yang ditunjukkan kepada masyarakat adalah benar-benar merupakan sosok Pemimpin Ummat yang memiliki kharisma untuk di ikuti dan dipanuti? Apakah beliau-beliau itu tidak pernah berpikir, akan kemana dan akan menjadi apa  masyarakatnya sekarang dan generasi berikutnya, atau yang lebih konkrit lagi, “hendak kemana Bangse sasak ini”?

Terhadap semua gerutuan, hayalan dan pemikiran di atas, tidak akan bisa dijawab oleh siapapun kecuali  beliau-beliau para Almukarram Tuan Guru kita itu.

Seandainya saja, saya punya kapasitas untuk mengundang beliau-beliau, mengumpulkan beliau guna menyatukan  pemahaman dan pemikiran beliau tentang arah masa depan Bangse Sasak, arah masa depan Daerah, Negara dan Bangsa Indonesia yang tak henti-hentinya diserang Tewroris ini, maka tidak akan sampai sekarang beliau-beliau itu akan tercecer, bercerai berai (tidak bersatu) seperti saat ini.

Lalu…. siapa,.. kira-kira yang punya kapasitas dan kapabilitas untuk bisa menyatukan beliau-beliau itu..? Mungkin ada diantara pemikir-pemikir muda KS yang dapat memberikan Sumbangsih Saran, “DEMI KEMAJUAN BANGSE SASAK”

Ampure, Nunas maaf kalau tulisan singkat ini kurang berkenan di hati dan benak sanak senamian. Tulisan ini hanya ungkapan perasaan yang semata dihajatkan untuk dapat ‘Bersatunya Tuan Guru” yang merupakan Panutan Kita di Gumi Sasak Selaparang ini.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

Gumi Sasak, 23  Juli  2009.